Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, sejumlah titik di
Kota Semarang mulai dipenuhi lapak penjualan hewan kurban. Salah satunya
terlihat di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Gayamsari, di mana para
pedagang memamerkan domba etawa di tepi jalan guna menarik perhatian masyarakat
yang melintas.
Di bawah tenda sederhana, deretan domba berukuran besar
tampak berjajar rapi. Tidak sedikit pengendara yang sengaja memperlambat
kendaraan mereka untuk melihat kondisi hewan kurban yang dijual. Pemandangan
seperti ini memang menjadi tradisi tahunan yang selalu muncul saat mendekati
Idul Adha.
Seorang pedagang bernama Faisal mengungkapkan bahwa dirinya
sudah sekitar lima tahun berjualan hewan kurban di lokasi tersebut setiap musim
Idul Adha tiba. Menurutnya, memilih berjualan di pinggir jalan menjadi cara
paling efektif untuk menarik calon pembeli.
“Kalau mendekati Idul Adha memang kami buka lapak di pinggir
jalan. Sudah sekitar lima tahun seperti ini,” ujar Faisal pada Senin
(25/5/2026).
Ia menilai lokasi yang strategis memudahkan masyarakat
melihat langsung kondisi hewan sebelum memutuskan membeli. Selain menjadi
sarana promosi, calon pembeli juga bisa memastikan ukuran serta kesehatan hewan
kurban secara langsung.
Tahun ini, domba etawa disebut menjadi jenis yang paling
banyak dicari pembeli. Menurut Faisal, ukuran tubuh yang lebih besar dibanding
kambing biasa membuat jenis tersebut dianggap lebih ideal untuk kurban.
“Etawa memang paling banyak diminati karena badannya besar
dan dagingnya juga lebih banyak,” jelasnya.
Hewan-hewan tersebut didatangkan langsung dari kandang
ternaknya di wilayah Boyolali. Untuk harga, Faisal menjual domba etawa mulai
dari Rp3,5 juta hingga di atas Rp4 juta per ekor, tergantung ukuran dan kondisi
fisik hewan.
Dalam satu musim penjualan kurban, ia mengaku mampu menjual
sekitar 40 ekor hewan. Bahkan, jumlah stok yang dibawa ke lapak sengaja
diperbanyak karena permintaan masyarakat biasanya meningkat tajam menjelang
hari raya.
Salah seorang calon pembeli bernama Roni mengatakan dirinya
lebih tertarik memilih domba etawa karena ukuran tubuhnya yang terlihat lebih
besar. Baginya, ukuran hewan menjadi pertimbangan penting selain faktor harga.
“Kalau etawa memang kelihatan lebih besar, jadi lebih cocok
buat kurban,” kata Roni.
Ia juga merasa lebih yakin membeli setelah dapat melihat
langsung kondisi hewan di lokasi penjualan. Menurutnya, melihat fisik hewan
secara langsung membantu menentukan pilihan yang sesuai.
Selama berjualan di tepi jalan, para pedagang juga harus memastikan
kondisi hewan tetap sehat. Mereka menyiapkan sendiri pakan seperti rumput dan
dedak agar hewan kurban tetap terawat hingga hari penjualan tiba.
