Di zaman ini, banyak manusia terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama hanya dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan datang dengan bahasa yang ringkas, rapi, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang memikat. Namun di balik semua itu, tersembunyi ujian besar bagi para penuntut ilmu.
Seseorang bisa merasa cukup hanya dengan membaca jawaban singkat tanpa melalui proses belajar yang sebenarnya. Padahal ilmu bukan sekadar mengetahui jawaban, tetapi tentang bagaimana ilmu itu diperoleh, dipahami, diamalkan, dan diwariskan dengan benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ
“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.”
Ilmu tidak hadir hanya dengan memperoleh jawaban cepat. Ilmu lahir dari proses panjang: duduk bersama guru, membaca kitab, mengulang pelajaran, menahan lelah, dan bersabar dalam memahami. Di situlah letak keberkahan ilmu.
Maka ketika AI hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu harus kembali menata adab dan sikapnya. Jangan sampai AI dijadikan sandaran utama hingga melemahkan semangat talaqqi dan muthala’ah.
Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi
Dalam Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan teks atau informasi yang bisa diakses kapan saja. Ilmu memiliki ruh, memiliki adab, dan memiliki jalan yang harus ditempuh.
Anas bin Malik rahimahullah berkata:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Nasihat ini menunjukkan bahwa keberhasilan ilmu tidak hanya bergantung pada banyaknya pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana cara mengambilnya.
Karena itu para ulama sangat menekankan pentingnya talaqqi, yaitu mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata:
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.”
Ketika ilmu diambil langsung dari guru, ada proses koreksi, pengarahan, dan penjagaan pemahaman. Inilah yang membuat ilmu itu berkah dan terjaga.
AI sebagai alat bantu, bukan sandaran
Teknologi pada asalnya hanyalah sarana. Tidak salah memanfaatkan AI untuk membantu penulisan, merapikan catatan, atau mencari gambaran awal suatu pembahasan. Namun masalah muncul ketika AI dijadikan rujukan utama dalam memahami agama.
As-Safadi rahimahullah berkata:
ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ
“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan.”
Jika kitab saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks dari internet tentu lebih tidak memadai lagi.
AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat seseorang salah memahami, dan tidak menanggung pertanggungjawaban atas jawaban yang diberikannya.
Terlebih lagi dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah Islam memiliki makna yang dalam dan istilah-istilah teknis yang tidak selalu bisa diterjemahkan secara tepat oleh mesin. Satu kata dalam kitab fikih bisa berbeda makna ketika digunakan dalam kitab tafsir atau hadis.
Karena itu, menyerahkan pemahaman agama sepenuhnya kepada AI tanpa bimbingan ahli ilmu adalah perkara yang berbahaya.
Risiko ketika terlalu bergantung pada AI
1. Berkurangnya keberkahan talaqqi
Keberkahan talaqqi bukan hanya soal benar atau salahnya informasi. Di dalamnya ada doa guru, keteladanan, dan tarbiyah yang tidak bisa digantikan mesin.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka.”
AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak melewati proses talaqqi sebagaimana para ulama.
2. Melemahnya semangat muthala’ah
Membaca kitab memerlukan kesabaran. Ada proses bingung, mengulang, lalu memahami secara perlahan. Justru proses inilah yang membentuk kedalaman ilmu.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة
“Dalam ilmu ini harus ada latihan yang panjang dan banyak mengulang pelajaran.”
Ketika seseorang terbiasa mendapatkan jawaban instan, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk bersabar dalam belajar.
3. Merasa paham padahal dangkal
Jawaban AI sering terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal kadang hanya menyentuh permukaan pembahasan. Tidak ada rincian ikhtilaf ulama, sebab perbedaan pendapat, maupun penerapan ilmu dalam kondisi nyata.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ
“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa.”
AI tidak memikul dosa dan tanggung jawab. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawabannya lah yang akan memikul akibatnya.
4. Referensinya terbatas pada internet
AI bekerja berdasarkan data digital yang tersedia. Padahal masih banyak kitab turats dan manuskrip ulama yang belum terdigitalisasi.
Para ulama salaf dahulu rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya. Semangat mereka adalah mendatangi ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan.
Adab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AI
Pertama, gunakan sebatas alat bantu
AI boleh digunakan untuk mencari gambaran awal atau membantu penulisan, tetapi bukan untuk memahami agama secara mandiri.
Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata:
الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ
“Pada asalnya, menuntut ilmu dilakukan dengan belajar langsung dari para guru.”
Kedua, kembalikan kepada ahli ilmu
Apa pun yang diperoleh dari AI harus diverifikasi kepada guru atau ulama yang terpercaya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. an-Nahl: 43)
Ketiga, jangan jadikan AI sebagai dalil
AI bukan sumber ilmu syar’i. Ia hanya alat bantu yang bisa benar dan bisa salah. Jangan menjadikan hasil AI sebagai rujukan akhir tanpa membuka kitab dan memeriksa konteks pembahasan.
Keempat, tetap jaga muthala’ah dan talaqqi
Kemudahan teknologi tidak boleh membuat seseorang meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Kelima, luruskan niat
Sebelum membuka AI, tanyakan kepada diri sendiri: apakah ini untuk benar-benar memahami dan mengamalkan, atau hanya ingin jawaban cepat?
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Kesimpulan
Ujian penuntut ilmu di zaman ini bukan sulitnya akses ilmu, tetapi justru melimpahnya akses yang membuat seseorang mudah merasa sudah mengetahui padahal belum benar-benar belajar.
AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan talaqqi, adab, kesabaran, dan keberkahan dalam menuntut ilmu. Teknologi hanyalah sarana, sedangkan jalan para ulama tetaplah jalan yang harus ditempuh: belajar dengan adab, duduk bersama guru, membaca kitab, dan bersungguh-sungguh dalam memahami agama.
Ibnu al-Mubarak rahimahullah berkata:
نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم
“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.”
Semoga Allah menjaga para penuntut ilmu di zaman ini, memberikan keikhlasan dalam belajar, serta menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan sebab lalainya hati dari jalan ilmu yang benar.
